Cermin

Sahabat-sahabatku….

Marilah kita berhenti sejenak dari aktivitas

Untuk merenungi dan muhasabah diri

Melalui puisi ini….

Yang ditulis oleh Aa Gym

Mudah-mudahan dengan puisi ini

Kita akan lebih bersemangat lagi meningkatkan kualitas ibadah kita

Mempersembahkan yang terbaik untuk ilahi Rabbi, Sang Pemilik Diri


cermin

Tatkala ku datangi cermin,

Tampak sosok lama yang sering ku lihat

Namun belum ku kenal, ya belum ku kenal siapa engkau

Tatkala ku tatap wajah,

Tatkala ku tatap wajah ini wajah bercahaya, kemilau indah di surga

Ataukah wajah yang akan hangus hitam legam dan jahanam?

Tatkala ku tatap mata,

Apakah mata ini yang akan menatap Allah,Rosulullah yang mulia dan para kekasih allah…?

Ataukah menjadi mata yang melotot terbeliak, meleleh menatap jahanam?

Akankah penatap maksiat jauh dari al-qur’an akan selamat..?

Apa yang kau nikmati selama ini wahai mata….

Tatkala ku tatap mulut,

Apakah mulut ini yang akan berdesah lembut laailahaillallah saat ajal menjemput…

Ataukah menjadi mulut menganga dengan lidah menjulur dengan lengkingan jeritan pilu yang mencopot setiap persendian pemakan buah zaitun getir penghangus usus…

Apakah gerangan yang kau ucapkan wahai mulut yang malang

Oh…betapa aku tertipu topeng

Oh…betapa yang ku hias hanyalah topeng

Oh…betapa yang indah hanyalah topeng

Sedangkan aku…

Hanyalah seonggok sampah busuk terbungkus

Aku tertipu…

Aku malu…

Berapa banyak dusta yang kau ucapkan

Berapa banyak hati remuk dengan pisau katamu

Berapa banyak kata-kata manis mengiris

Berapa banyak kata-kata manis yang palsu menipu

Berapa banyak fitnah yang membantai

Berapa jarangnya engkau jujur

Berapa jarangnya engkau menyebut asma allah

Berapa jarangnya engkau membantu sesama

Berapa jarangnya engkau tulus ikhlas

Berapa jarangnya engkau lirih memohon ampunaNYa


Kiriman dari Novridasari

Ujian di depan Mata; Selamat Berjuang

Tidak terasa, ujian semester tinggal beberapa hari lagi. Terutama yang kuliah di Mesir. Semuanya serentak mulai ujian awal bulan Mei. Yang di Indonesia juga tidak jauh beda. Bulan Mei memang musim ujian.

Segenap pengrurus alumni Al Amin Tasikmalaya-Mesir mengucapkan:
Selamat Menghadapi Ujian Semester
Semoga mendapatkan kemudahan, kelancaran, dan lulus dengan hasil yang terbaik.
Amiin ya Robb...

""""

Perbincangan di Sore yang Cerah…

Di suatu sore di belahan kota el-Sadr, Aku sedang membaca sebuah surat kabar harian di Mesir. Di sampingku, Aisya sedang menata bukunya diatas meja bundar yang terbuat dari kayu. ”Fahri, Aisya, sudah lama kalian menunggu ya, maaf, lama aku mencari-cari gelas, ternyata ada di rak dapur. Ini ku sajikan tamar hindi buat kalian”. ”Oiya Fahri, boleh sebantar aku bertanya?” Maria mengawali perbincangan sore itu. Aku mengangguk sambil khusyuk membaca koran. ”Kenapa kau selalu tak ada di tempat saat sabtu sore padahal aku mau menemuimu? Aku masih tampak tak acuh. ”Fahri, aku bertanya seruis”...tegas Maria. Dengan nada tegas itu Aku terperanjat dan segera manjawab: ”oh, Aku memang punya jadwal khusus tiap sabtu bada magrib. Namanya liqo” (sama dengan talaqii gak ya?). ”Lho, kamu tega ya gak ngajak kami berdua?” Maria agak kecewa sambil menatap Aku dan Aisya berurutan.. ”kan peserta liqo yang hanya se gender Maria. Ikhwan ya sama ikhwan dong”. ”Memang aku tak boleh ikut?” Maria masih penasaran. ”Untuk akhwat yang ada juga khusus, Maria” jawab Aisya menenangkan. ”Memang Aisya juga ikutan?” Kini tatapan Maria serius pada Aisya. Didahului senyum indah Aisyah menjawab: ”Ya pasti Maria, aku juga tak ingin ketinggalan dari Fahri”. Kau tahu Nurul khan, temen Fahri yang dari Indonesia. Ia juga bersama kok belajar denganku”.


Maria melanjutkan: ”Lho kok aku belum tahu sebelumnya Fahri?” Sambil mengangkat cangkir berisi .... Aku berkata: ”Ya memang ada beberapa istilah yang dipakai. Misalnya Liqo, Kamu tahukah arti istilah ini?” ”Sebentar Fahri...”, kini Maria terlihat berfikir memutar otak. ”Fa man kaana yarjuu liqooa rabbih falya’mal amalan shalihan walaa yusyrik biibadati rabbihi ahada. Betulkan Fahri?” Wah Maria hafal ayat Quran tersebut rupanya. Maria memang sudah hafal ayat tersebut karena paling sering terlihat saat menghafal surat Alquran favoritnya, Maryam. Dan ayat yang ia baca hanya terpaut satu ayat sebelumnya (AlKahfi 110). Secara lughawi sama artinya dengan kata di ayat tersebut. Kalau sahabatku di Jakarta mereka menyebutnya ”pekanan”. Di Bandung beda lagi, ”mentoring”. Di Madinah saat aku berkenalan dengan salah seorang mahasiswa Malaysia istilahnya ”halaqoh”. ”Kalau adikmu di jawa itu apa istilahnya Fahri?” Aisya memotong seakan tertarik dengan bahasan ini. ”Oo, iya namanya lain lagi, ”usroh” adikku bilang. Hanya merek saja yang berbeda”. ”Forum liqo itu mengkaji islam kan?”,”Kamu pintar sekali Maria!” Sambutku. Nah selain materi keislaman, ada pula penjagaan ruhiyah agar kita terhindar dari futur. Tapi Menurutku lebih banyak ruang untuk curhat dan merekatkan ukhuwwah dengan saudara yang lain Fahri”, tangkas Aisya menambahkan.

Maria terlihat mengingat sesuatu, kemudian”:Aku pernah lihat sekelompok mahasiswa laki-laki sedang jalan-jalan ke bukit Sinai tampak erat persahabatan mereka itu, apa itu forum yang sama juga?” Tanya Maria. ”Betul sekali Maria, tidak hanya ’duduk duduk melingkar’ liqo itu banyak pula metodenya, ada rihlah, program sosial, mabit atau sekedar menikmati makan bersama sama.”

Aisha bertanya; ”kalau temen-temen seflatmu ikut liqo juga tidak? ”Alhamdulillah, mereka ku pertemukan kepada Ustadz Jalal untuk mendapat Kajian Islam” Jawabku singkat. ”Oh pantas saja mereka itu susah untuk dipisahkan satu sama lain. Kue hadiahku hampir saja basi karena harus menunggu Misbah yang pergi karena ada urusan”Maria agak menggerutu. ”Ya, itu memang salah satu pertimbangan meraka saja Maria, bagi sesama muslim memang itsar (mengutamakan teman) merupakan puncak dari ukhuwwah islamiyyah.” Tambah Aisya

”Nah, kalian sendiri tahu dari mana calon pengajar yang mengajari di liqo itu?”. Maria yang seakan haus ilmu ini bertanya lagi. Aku menjawab: ”itu namanya Murobbi (untuk laki-laki) dan Murobiyah (untuk wanita). Mereka ini orang orang biasa yang hanya dalam pendalam ilmu lebih tinggi dibanding kita (disebut mutarobbi), mereka juga punya kelamahan seperti kita tetapi bukankah kemuliaan seseorang dalam ilmu dihormati dalam islam. Terus bagaimana menurtumu Maria syarat orang-orang seperti itu?”. ”Dari penuturan kalian ya; kusimpulkan antara lain satu gender, punya hafalan quran lebih banyak, wawasan lebih luas, umur lebih dewasa, punya skill komunikasi! betul gak Aisya?” ”Ya tepat Maria” jawab Aisya dengan tersenyum bangga, hanya ada satu syarat mutlak yang terlewat!” ”Lho, apa itu Aisya?” tanya Aku heran; Mereka itu harus beragama islam...

”Oiya Fahri, saya belum tahu kenapa sistem liqo cenderung rahasia dan apakah ada contohnya dari Rosulullah?”Kini Aisyah yang giliran nanya. Dengan nada tenang kujawab: ”Baik, kalian tahu sirah nabawiyah kan? Bagaimana saat rasul mebina Kaum Muslim saaat dakwah sembunyi sembunyi?. Dimana mereka belajar Islam?” Maria dengan antusiasnya menjawab: ”Di rumah sahabat Rasullulah Arqam bi Abil Arqam dengan kondisi gelap dan jauh dari keramaian para Pemuka Quraisy!”. ”Ya tepat, kalau kondisi dakwah islam belum menyeluruh maka pasti harus dirahasiakan. Nah Saat rasul di Madinah pembinaan semacam ini sering ditemui di masjid Nabawi, bahkan bukan hanya rasul yang membina, tetapi para sahabat hasil binaan rasul juga, sampai masa sahabat dan tabiin seperti itu”. Ya, tentu urusan perseorangan yang menyangkut individu harus tetap dijaga ke-’amniah’annya. Kurasa baik di Mesir maupun di negara asalku; indonesia sudah tidak masalah dengan forum kajian islam ini. Khususnya di kampus-kampus. Setiap ada Lembaga dakwah kampus, hampir bisa dipastikan memiliki sistem pembinaan Liqo ini.

”Fahri, jujur aku iri sama kalian, Ah aku mau ikut liqo sekarang juga, kemana aku cari .....siapa itu? kok aku lupa ya Fahri”. ”Murobiyah??!, nampaknya Aisya lebih tahu Maria”, jawab Aku sambil berpindah pandangan ke Aisya. Wajah Aisya kini semakin sumringah ”Wah subhanallah Maria, kamu ikut saja aku besok pagi ku kenalkan pada pembimbingku di sana sekalian ketemu sama Nurul, insya allah kamu bisa gabung kok!”. Maria tampak senang dan Aisya dan Aku sangat senang dengan itikad baik Maria ini, sampai mata Aisya berbinar air mata, mengkilau saking terharunya. Di tengah perasaan haru karena bahagia itu Aku menambahkan, ”sebantar Aisya, Maria saya ingin memberi tahu hal lain yang cukup penting yang harus kalian ingat?” ”Apa itu Fahri?” Tanya Maria dan Aisya serentak sambil menyimak. Beberapa kalangan ummat islam ada yang masih belum sregh dengan metode ini karena menurutnya cenderung ke arah politik atau partai tertentu, sedangkan mereka jelas jelas tak ingin dekat-dekat dengan urusan politik”. Aisya sambil mengusap air matanya menegaskan ”Oh tentu saja Fahri aku ingat, bukankah justru partai islam itu juga merupakan salah satu sarana dakwah kita Umat Islam, sama seperti liqo ini, begitu menurutku. Lagi pula konsep liqo ini sudah ada sebelum partai islam dan Ormas-Ormas itu berdiri, malah sistem partai islam yang mengadopsi kebaikan sistem liqo ini khan?” Seketika Maria menyahut, ”jadi kenapa gak kita jelaskan hal-hal tersebut pada mereka.?” Kujawab saja:”Itulah tugas kita bersama. Hendaknya kita memberi contoh yang baik dengan mengikuti kajian ini. Jago pidato karena sering dilatih diskusi, prestasi meningkat karena di sana ada sharing ilmu, ruhiyah mantap serta menjadi pandai mengelola waktu. Maria agak Kaget ”Aku baru ingat Aisya, mulai pekan depan hari ahad pagi aku bakal ada urusan kerja di Kedutaan, katanya program sosial pekanan, bisakah aku tetap ikut kajian liqo?” Aisyah menenangkan ”ah tenang Maria, jadwal liqo itu justru sangat fleksibel. Kita bisa bertemu ya saat waktu yang disepakati bisa datang semua anggotanya. Asal kamu memberikan alasan yang kuat, insya allah semua temen-temen memahami dan kita bisa ganti jadwalnya”.

”Maaf Fahri, Aisya, satu pertanyaan lagi dariku! Apakah kalian juga ”dipertemukan” karena efek dari sistem liqo ini?” Aisya dan Aku saling memandang dan tersenyum. Dengan datar kubilang ”Itu sih salah satu takdir Allah saja Maria. Mencari jodoh itu tak harus sama murobbi. Tapi kalau kita belum banyak tahu tentang lawan jenis dan takut calon yang belum siap atau malah sudah dikhitbah,. Murobbi bisa membantu. Paling tidak mengetahui siapa yang sudah siap dan belum dikhitbah sama orang lain”. Aisya menambahkan ”tapi yang namanya jodoh tetap saja Rahasia Allah. Mereka hanya membantu tidak jadi penentu. Selamanya jodoh itu di tangan Allah. Dan setiap makhluk di dunia ini punya jodohnya masing-masing seperti...”,”Sebentar Aisya!!!”, potong Maria. ”Rasanya aku tahu lanjutan kata-katamu itu. Seperti Mesir yang berjodoh dengan sungai Nil...”

Memang bukan salah satu bagian Novel, hanya menemukan ide penyampaian yang baru. Mohom maaf kalau ada kesalahan dalam penyampaian. Afwan sekali ke Kang Abik, karena telah lancang mengambil peran2 nya

Antara Kampus Gajah, Mesjid Salman dan Sungai Cikapundung

1-2 April 2008

Revisi 3 April 2008

Mang Utis a.k.a Maman Abdul Rohman


Detik-detik Terakhir Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratulmaut

Hayatilah...

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turunmenahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali r.a. menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, " kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku,
hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin , kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku", peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?"

"Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

(dari Maman Abd. Rohman)

Tawazun

Tawazun artinya seimbang. Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan. (QS.67:3)

Manusia dan agama Islam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah yang telah Allah tetapkan. Mustahil Allah menciptakan agama Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut (QS.30:30). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memilki naluri beragama (agama tauhid : al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits,"Tiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orangtuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.").


Sesuai dengan fitrah Allah,manusia memiliki tiga potensi, yaitu al-jasad (jasmani), al-aql (akal), dan ar-ruh (ruhani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada QS.55:7-9.

Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing, yaitu sbb :

Jasmani

Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah swt,karena itu harus kita jaga . Dalam sebuah hadits dikatakan ,"Mu'min yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mu'min yang lemah."(HR.Muslim), maka jasmani pun harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halalan thoyyiban (halal dan baik) (QS.80:24,2:168), beristirahat (QS.78:9), kebutuhan biologis (QS.30:20-21) dan hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.

Akal

Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenali hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardhi (wakil Allah di atas bumi) (QS.2:30;33:72). Kebutuhan akal adalah ilmu (QS.3:190) untuk pemenuhan sarana kehidupannya.

Ruh (hati)

Kebutuhannya adalah dzikrullah (QS.13:28;62:9-10). Pemenuhan kebutuhan ruhani sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.

Dengan keseimbangan, manusia dapat meraih kebahagiaan hakiki yang merupakan ni'mat Allah, karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan / ummatan wasathon (QS.2:143), yaitu umat yang seimbang.

Kebahagiaan pada diri manusia itu dapat berupa:
  • Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam bentuk ketenangan jiwa (QS.13:28)
  • Kebahagiaan dzahir/gerak, dalam bentuk kesetabilan, ketenangan ibadah, bekerja dan aktivitas lainnya.
Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai mensyukuri ni'mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut manusia seutuhnya.

Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
  • Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar).
  • Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani/materi saja.
  • Manusia Pantheis (kebatinan): bersandar pada hati/batinnya saja.
Diskusi
  1. Banyak artis yang hidup dengan kemewahan, namun akhirnya dia mati bunuh diri akibat over dosis obat-obatan terlarang (NAZA). Menurut kamu, apa sebenarnya arti kebahagiaan itu?
  2. Sejujurnya, apakah kamu selama ini sudah hidup seimbang?
  3. Coba diskusikan dengan temanmu, usaha-usaha apa saja yang sudah dan akan kamu lakukan agar hidup kamu seimbang?
Referensi

Al-Qadiry, Seimbanglah dalam beragama, Jakarta:GIP

Maman Abd. Rohman

Pengabdian

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .(Al-Isra 23)

Keagungan selamanya milik Allah, sang Khalik sang pengatur alam ini. Tak ada satu pun yang lepas dari kekuasaanNya. Salam semoga terlimpahkan pada Rasulullah mulia, teladan dan pemimpin kami, Muhammad bin Abdullah SAW. Kami selau berharap syafaatmu selalu.

Sungguh Alllah telah memerintahkan pada kita agar selalu mengabdi padaNya saja, tanpa disertai kemusyrikan. Ini adalah sebagai hak Allah yang telah menciptakan kita sebagai manusia; sang khalifahNya di bumi.



Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,( Al-Baqarah 21).

Taaat dan mengabdi kepada Allah adalah sebuah kewajiban mutlak seorang manusia. Jelas mengabdi kepada Allah tak mengenal waktu, tempat, orang, pangkat apalagi kekayaan. Seorang insan yang diridhaiNya tak pantas jika ia tak menghambakan diri pada Allah SWT. Mengabdi pada Allah berarti kita harus berpegang teguh pada apa yang diinginkanNya. Melaksanakan syariatNya, menjaga amanahNya serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ketaatan kepadaNya akan bermakna tatkala kita merasakan cinta pada Allah. Dan salah satu bukti ketatan kita padanya adalah dengan menaati Rasulullah:

Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran 31)

Ketaatan pada Rasul adalah ketaan pada syariah islam, ketaatan pada dakwah islam. Jadilah kita sebagai para pelindung agama ini serta sebagai duta Islam yang mencerminkan indahnya islam, mulianya islam serta benarnya ajaran islam.

Subhanallah, betapa pengabdian kita kepada Allah merupakan pengabdian paling tinggi dan tak terbantahkan. Sementara balasan mulia pun akan didapatkan seorang hamba.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(At Taubah 111)

Allah telah menyuruh kepada kita pula untuk berbuat baik terhadap orang tua. Istilah sekarangnya adalah berbakti. Orang tua yang telah mejadi jalan bagi adanya kita di dunia ini sudah sepantasnya mendapatkan penghormatan dan pelayanan dari kita. Rasulullah pun menyampaikna bahwa berbaktinya kita pada orang tua lebih utama setelah ibadah pada Allah serta lebih utama dibanding jihad berperang di jalan Allah

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk enggan berbakti dan mengabdi pada orangtua kita. Tak mungkin kita bisa membalas segala pengorbanannya, maka kita pun sadar dan memberikan yang terbaik, ikhlas karena Allah. Kalau pun mereka belum mendapat hidayah, maka tak boleh berkurang sedikit pun adab baik kita pada mereka, justru kitalah yang harus menjadi jalan datangnya cahaya ilahiyah padanya. Ummi, Abi, maafkan atas kekurangan anakmu selama ini...

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mu'min pada hari terjadinya hisab ".(Ibrahim 41)

Kita sebagai muslim


Pengabdian sebagai muslim adalah sama. Pengabdian tertinggi adalah pada Allah dengan mengikuti sunnah RasulNya. Berbakti kita pada Orang tua adalah satu bagian penting dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus berupaya sekuat tenaga untuk mensyukuri pengabdian ini.

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(Luqman 14)

Kita sebagai alumnus

Istilah baru muncul saat ini, pengabdian kita pada Al-Amin. Sesungguhnya latar belakang kita ”membalas baik” pada Al-Amin tidak lain karena kebaikan yang kita terima darinya. Namun janganlah kita menjadikan alasan ini sebagai alasan utama karena jika tidak disertai landasan pengabdian pada Allah, usaha kita tentu sia-sia saja.

Berbakti pada Al-Amin yang notabene bertujuan menegakkan izzah islam perlu sedikit diluruskan. Memang kita memiliki hak untuk berdakwah dan melakukan syiar islam dimana pun di bumi Allah ini. Setelah kita memiliki ilmu dan kesempatan yang memadai, maka ruang-ruang perjuangan sangat terbuka lebar. Lalu Mengapa mesti alamamter? Al-Amin adalah salah satu tempat kita memenpa diri sehingga menjadi jalan kita bisa menjadi seperti ini. Sama halnya dengan berbakti pada orang tua (meski pun tingkatannya tidak sepadan) jangan anggap pengabdian kita pada Al-Amin hanya karena kewajiban belaka atau karena alasan ”balas budi”.

Menjadikan generasi di Al-Amin menjadi lebih baik tentu sangat baik. Bukankah generasi terbaik adalah generasi yang mampu melahirkan generasi yang lebih baik dari generasinya???.

Sahabat, upaya pengabdian pada Al-Amin hendaknya dilandasi bukan hanya untuk memajukan alamater, tetapi menjadikan Al-Amin menjadi salah satu wadah untuk memuliakan agama ini. Membuktikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tentunya tak akan berhasil tanpa koordinasi serta perjuangan dengan lembaga, organisasi lain yang bernafaskan islam. Contohnya janganlah bersedih ketika betapa sulitnya menjadi terbaik dalam sebuah akreditasi, tapi sebaliknya; ternyata dalam perjuangan islamini, masih ada kawan yang lebih baik dari kita, bersinergilah dan tsiqoh untuk menunjukan izzah islam pada sekalian alam.

Harapan...

Saya hanya ingin menginatkan bahwa apa yang diharapkan pengasuh kita di ma'had bahwa cita cita pada alumni bukan semata-mata memajukan ma'had tetapi menajukan islam itu lebih penting, dimana pun berada hendaknya selalu berpegang pada al-islam. Janganlah kita terpecah pecah karena perbedaan posisi, pendidikan, kekayaan, atau hal-hal lain yang itu hanya akan mendikotomi kita. Masih banyak hal besar yang harus kita lakukan bersama untuk agama ini. Perbaiki diri, selamatkan lingkungan, bangun masyarakat yang taat pada Allah, agungkan syiar islam.

Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(At Taubah 122)

Allahu Akbar!!!
Semoga Allah memudahkan


Bandung, 22 Februari 2008
Maman Abdul Rohman (calon) S.Si




Sepuluh Alasan Untuk Tidak Memakai Jilbab

Assalamu'alaikum.wr.wb
Semoga berkenan,
dari multiply seorang teman yang ingin berbagi jalan..
Sepuluh Alasan Untuk Tidak Memakai Jilbab
Oleh : Dr. Huwayda Ismaeel (Diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris)

ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab

Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini; Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaa ha Illallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya. Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah SAWW yang suci. Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?

ALASAN II : Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.

Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah SAWW dalam nasihatnya yang sangat bijaksana; “Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah SWT.” (Ahmad) Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. Dalam sebuah ayat disebutkan; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . “ (QS. An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah SWT. Allah berfirman; “ dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…(QS. Luqman : 15)

Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah Allah SWT tidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah SWT yang menciptakan kamu dan ibumu.


ALASAN III : Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab.

Saudari ini mungkin sati diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang penipu yang mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur. “Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?” Bukankah Allah SWT telah berfirman; “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui (QS An-Nahl : 43). Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu. Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah SWT daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.

Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah SWT akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman; “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. .”(QS. AtTalaq :2-3). Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah SWT. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang
mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah SWT dan Rasul-Nya SAWW, dan bergantung pada hukum Allah SWT yang murni. Dengarkanlah kalimat Allah; sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..”(QS. Al-Hujurat:13) .Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah SWT, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.


ALASAN IV : Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.

Allah SWT memberikan perumpamaan dengan mengatakan; “api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui..” (QS At-Taubah : 81)Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat talli besar untuk menarikmud ari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka. Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah SWT akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum Allah SWT dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; “mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah”(QS. AN-NABA 78:24-25). Kesimpulannya, surga yang Allah SWT janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.

ALASAN V : Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.

Kepada saudari itu saya berkata, “apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti! Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka tekut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu? Allah SWT menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah SAW bersabda; “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.” Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya? Allah SWT sesungguhnya telah berfirman; “maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”(QS. AL BAQARAH 2:66) Kesimpulannya, apabila kau memgang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah SWT setelah kau melaksanakannya.

ALASAN VI : Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit, jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.

Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah SWT dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah SWT, dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah SWT. Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatan kepada Allah SWT, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah SWT bersabda; “dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”(QS. TAHA 20:124) Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak?

Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanm u kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuan yang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan
tersebut. Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.


ALASAN VII : Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah SWT : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”(QS. Ad-Dhuhaa 93: 11). Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?

Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : “janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya”( QS An-Nur 24: 31] dan sabda Allah SWT: “katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..” (QS Al-Ahzab 33:59). Dengan pernyataan darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah SWT, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah SWT bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini? Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?

ALASAN VIII : Saya tahu bahwa jilbab adalah kewajiban, tapi saya akan memakainya bila saya sudah merasa terpanggil dan diberi petunjuk oleh-Nya.

Saya bertanya kepada saudariku ini, rencana atau langkah apa yang ia lakukan selama menunggu hidayah, petunjuk dari Allah SWT seperti yang dia katakan? Kita mengetahui bahwa Allah SWT dalam kalimat-kalimat bijak-Nya menciptakan sebab atau cara untuk segala sesuatu. Itulah mengapa orang yang sakit menelan sebutir obat untuk menjadi sehat, dan sebagainya. Apakah saudariku ini telah dengan seluruh keseriusan dan usahanya mencari petunjuk sesungguhnya dengan segala ketulusannya, berdoa, sebagaimana dalam surah Al-Fatihah 1:6 “Tunjukilah kami jalan yang lurus” serta berkumpul mencari pengetahuan kepada muslimah-muslimah lain yang lebih taat dan yang menurutnya telah diberi petunjuk dengan menggunakan jilbab? Kesimpulannya, apabila saudariku ini benar-benar serius dalam mencari atau pun menunggu petunjuk dari Allah SWT, dia pastilah akan melakukan jalan-jalan menuju pencariannya itu.

ALASAN IX : Belum waktunya bagi saya. Saya masih terlalu muda untuk memakainya. Saya pasti akan memakainya nanti seiring dengan penambahan umur dan setelah saya pergi haji.

Malaikat kematian, saudariku, mengunjungi dan menunggu di pintumu kapan saja Allah SWT berkehendak. Sayangnya, saudariku, kematian tidak mendiskriminasi antara tua dan muda dan ia mungkin saja datang disaat kau masih dalam keadaan penuh dosa dan ketidaksiapan Allah SWT bersabda; “tiap umat mepunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS Al-An’aam 7:34] saudariku tersayang, kau harus berlomba-lomba dalam kepatuhan pada Allah SWT; “berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumu..”(QS Al-Hadid 57:21) saudariku, jangan melupakan Allah SWT atau Ia akan melupakanmu di dunia ini dan selanjutnya. Kau melupakan jiwamu sendiri dengan tidak memenuhi hak jiwamu untuk mematuhi-Nya. Allah mengatakan tentang orang-orang yang munafik, “dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri” (QS Al-Hashr 59: 19) saudariku, memakai jilbab di usiamu yang muda, akan memudahkanmu. Karena Allah SWT akan menanyakanmu akan waktu yang kau habiskan semasa mudamu, dan setiap waktu dalam hidupmu di hari pembalasan nanti.Kesimpulannya , berhentilah menetapkan kegiatanmu dimasa datang, karena tidak seorang pun yang dapat menjamin kehidupannya hingga esok hari.

ALASAN X : Saya takut, bila saya memakai jilbab, saya akan di-cap dan digolongkan dalam kelompok tertentu! Saya benci pengelompokan!

Saudariku, hanya ada dua kelompok dalam Islam. Dan keduanya disebutkan dalam Kitabullah. Kelompok pertama adalah kelompok / tentara Allah (Hizbullah) yang diberikan pada mereka kemenangan, karena kepatuhan mereka. Dan kelompok kedua adalah kelompok syetan yang terkutuk (hizbush-shaitan) yang selalu melanggar Allah SWT. Apabila kau, saudariku, memegang teguh perintah Allah SWT, dan ternyata disekelilingmu adalah saudara-saudaramu yang memakai jilbab, kau tetapi akan dimasukkan dalam kelompok Allah SWT. Namun apabila kau memperindah nafsu dan egomu, kau akan mengendarai kendaraan Syetan, seburuk-buruknya teman.

KESIMPULAN

Tubuhmu, dipertontonkan di pasar para syetan dan merayu hati para pria Model rambut, pakaian ketat yang mempertontonkan setiap detail tubuhmu, pakaian-pakaian pendek yang menunjukkan keindahan kakimu, dan semua yang dapat membangkitkan amarah Allah SWT dan menyenangkan syetan. Setiap waktumu yang kau habiskan dalam kondisi ini, akan terus semakin menjauhkanmu dari Allah SWT dan semakin membawamu lebih dekat pada syetan. Setiap waktu kutukan dan kemarahan menuju kepadamu dari surga hingga kau bertaubat. Setiap hari membawamu semakin dekat kepada kematian. “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain dari kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali ‘Imran 3:185).
Naikilah kereta untuk mengejar ketinggalan, saudariku, sebelum kereta itu melewati stasiunmu. Renungkan secara mendalam, saudariku, apa yang terjadi hari ini sebelum esok datang. Pikirkan tentang hal ini, saudariku, sekarang, sebelum semuanya terlambat !

"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"
Wass.wr.wb
Izzuman Bayu


fwd by: Maman Abd Rohman